Rabu, 12 Oktober 2016

Aku adalah bayanganmu



Aku adalah bayanganmu

 

Cerita ini bermula di suatu pagi di pertengahan tahun tepatnya pada tanggal 21 april  2010, dimana hari itu adalah awal masuk untuk melakukan pembelajaran di sekolah menengah ke atas.
Dan semua siswa siswi di SMA tersebut langsung masuk di tiap kelas yang telah di tentukan oleh guru, ketika semua sudah masuk bell pun berbunyi menandakan bahwa pelajaran pertama telah di mulai. Semua siswa siswi yang berada dikelas pada waktu itu canggung untuk melakukan perkenalan satu sama lain, semua hanya diam melongok menunggu sampai guru yang mengajar kami datang, namun tak kunjung datang bell ke dua telah berbunyi menanndakan bahwa jam pertama telah selesai dan masuk untuk pelajaran yang ke dua. Akan tetapi, cerita ini bukan mengisahkan guru guru yang tidak datang, apalagi tentang bell penanda hehehe
            Ini kisah tentang perjalana cinta seseorang. Dan bagaimna lazimnya sebuah perjalanan, selalu di sertai dengan pertanyaan-pertanyaan.
            Pagi itu, baru lepas 2 minggu MOS di SMA. Sisa sisa Mos masih terasa hangat, meski topi jerami dan nama di kardus yang di suruh bawah dari rumah sdah tidak ada lagi, tapi itu masih terasa.
Masa-masa itu kami hanya berada di dalam kelas, taksatupun siswa maupun siswi yang mau berkenalan, sampai terdengar bell ke tiga yang menandakan bahwa jam ke dua telah selesai dan waktunya istirahat. Semua siswa maupun siswi mulai keluar dari kelas menuju ke kantin, dan setelah berbelanja mereka membawa makanan masuk ke dalam kelas untuk menyantap belajaannya, kemudian kamipun melihat satu sama lain menyapa walaupun belum berkenalan. Dan kamipun berinisiatif untuk melakukan perkenalan satu sama yang lain tapi belum dengan siswinya karena masih malu wajarlah awal awal wanita selalu malu berkenalan dengan pria, Bell pun berbunyi menandakan istirahat telah selesai dan masuk untuk pelajaran ke empat. Setelah bell terakhir berbunyi kamipun bergegas untuk merapikan buku dan pulang
            Keesokan harinya kami semua makin akrap dan lambat laun semua berkenalan dari wanita dan pria semua saling akrab satu sama yanglain kecuali si gadis itu. Aku terkejut melihat seorang wanita yang kelihatannya sangat berbeda dari wanita-wanita yang lain, tapi entah apa yang membuat diriku tertarik kepadanya. Tiap hari aku memandanginya hanya dari jauh, Hingga suatu waktu aku dan wanita itu duduk bersampingan untuk melakukan kerja kelompok, aku sangat gugup berada di dekatnya tapi aku sangat ingin mengetahui siapa namanya dan akupun memberanikan diriku untuk berkenalan dengannya, “Hai ! Aku dias, kamu ? “ Si Wanita itu menjawa sapaanku “Hai juga, aku lintang” jawab gadis itu sambil tersenyum, aku rasa hari ini adalah hari istimewaku. Ujar ku dalam hati. Setelah pelajaran selesai aku menghampirinya dan berkata “kau pulang dengan siapa?” gadis itu menjawab “aku dijemput sma papah aku”,sambil memperlihatkan senyumannya yang has itu “Ohh aku kira kamu sendirian oke deh kalau begitu. Aku deluan yah?”
            Dan dari saat itu aku sering bercerita mengenai kehidupan sehari harinya menanyakan apa yangia sukai, dan makin lama makin akrap, aku mengajak lintang untuk pergi menikmati senja, aku baru tahu klau gadis itu juga menyukai senja, dan dari situlah aku sering mengajak lintang untuk menikmati senja bersama, aku sangat mencintai lintang tapi aku belum bisa mengunggkapkan perasaanku, aku takut jika aku ditolak dan lintang menjauhiku, hingga suatu ketika wanita itu di datangi oleh seorang laki laki yang sangat di kenal oleh semua siswa yang ber ada di sekolah ini. Namanya Kendra dia adalah temanku saat SD bisa dikatan hendra adalah teman baikku, iya sangat baik kepada semua orang itu yang membust indra mempunyai banyak teman. Ketika indra masuk ke dalam kelasku iya melihat seseorang wanita yang membuat pendangannya fokus ke satu arah, dia melihat lintang. Hendra pun datang menemuiku”dias, kau di kelas ini rupanya” sambil duduk di atas meja,”hehhe iya bro, kau di kelas berapa?”bertanya balik. “Aku di kelas a7 yang dekat ruangan UKS”sambi menjelaskan” Ohh kau di situ” hendra kelihatannya sedang menatap gadis itu, tiba tiba hendra bertanya kepadaku “Dias kau tahu siapa nama gadis itu ?” Aku pura pura tidak melihat wanita yang di maksud hendra. ”Yang mana sih?, disitukan banyak cwe”kataku. “itu yang bangku paling ujung!” sambil menunjuk ke arah lintang. “Ohh yang itu, Itu namanya lintang. Knapa emangnya ?, kau suka dengan dia ?, sambil duduk kembali ke kursi. “aku daritadi liatin dia, dia  kaya beda yah sama cwe cwe yang lain, Sepertinya aku jatu cinta deh sama cwe itu,  entah apa yang kurasakan saat itu ketika hendra mengatakan kalau hendra jatu cinta dengan gadis itu, rasanya seperti amburadur di dalam hatiku. Aku tidak tauh harus berbuat apa untuk menghalangi hendra jatu cintah dengan gadis itu, tapi di sisi lain aku tidak bisa membuat temanku yang satu ini kecewa, hendra sudah kuanggap saudaraku sendiri. aku juga berfikir apa juga yang bisa kuperbuat aku hanya seorang laki lakai yang biasa biasa saja sedangkan hendra mempunyai tampang yang gagah dan berkecukupan.  Aku hanya bisa memandanginya cukup dari jauh. Hingga suatu waktu aku mendengar kabar dari teman-teman kelas bahwa mereka sudah jadian, entah kenapa secepat itu hendra bisa mendapatkan hati lintang, aku hanya bisa merasakan  sakit hati ini sangat-sangat mendalam, rasanya seperti di sayat-sayat oleh pedang tajam berkali kali. Tiap hari hendra selalu datang ke kelasku untuk melihat lintang, atau mengajaknya ke kantin, mereka kelihatannya sangat mesra. Aku hanya bisa pasrah ketika melihat mereka berdua sedang bermesraan.
            Sekarang kami sudah mencapai kelas dua SMA, dan sekaranag waktunya untuk pemilihan jurusan. Dan lagi lagi aku kefikiran dengan gadis itu, aku belum bisa melupakannya. Dalam hatiku bertanya Tanya”jurusan apa yang iya ambi?”,dengan hati yang sangat penasaran aku berjalan menuju koridor kelas satu, aku melihat reva  teman kelasku sedang sendiri, aku langsung menghampirinya. “Hai ?, kamu kenapa sendiri?” reva balik dengan wajah terkejut  “Ehhh kamu bikin kaget aku ajah, Aku lagi nungguin lintang” Aku terkejut mendengar nama lintang lagi, “emangnya lintang kemana ?” sambil menutupi keterkejutanku ,“lintang lagi urus pengambilan jurusannya di kurikulum” Dengan hati yag penuh dengan pertanyaan, aku bertanya lagi “Emang lintang ambil jurusan apa ?” dengan wajah heran, “lintang ambil jurusan ipa, sama dengan jurusan indra, Ehh dias, serasi banget yah  lintang dan henra ?”. Aku hanya bisa diam ketika reva mengatakan itu, .”Woi di ajak ngomong malah ngayal”, dengan wajah marah. “ Ehhh sory sory , ngomong apa tadi ?, sambil memperbaiki cara duduk “ ahhh ngak usah malas cerita sama kamu, di cuekin” sambil berdiri. “kamu mau kemana ?.” aku mau ke kurikulum mau nyusul lintang”, berjalan meninggalkanku. Sekarang aku hanya sendiri taka ada orang di koridor itu selain aku. 
Entah jurusan apa yang harus aku ambil, aku bingung untuk mengambil jurusan apa ?, apakah aku harus mengikuti jurusan yang gadis itu ambil atau mengikuti kata hatiku. Dan dari kebimbangan itu entah kenapa aku di kejutkan oleh kata kata yang entah dari mana asalnya muncul di dalam fikiranku yang berkata ,“hidup ini masih panjang”. Aku masih belum mengerti dengan kata kata itu, akupun pulang. Sesampainya di rumah, aku masih bertanya Tanya tentang arti dari kata kata itu, apakah  itu artinya sekarang waktunya untuk mengalihkan perhatianku dari dia ?, tapi hati ini belum bisa melepasnya dengan sepenuh hati, tapi di sisilain aku memang harus melupakan keingginanku untuk mendapatkan hatinya, sekarang aku harus belajar melupakannya dan aku harus yakin bisa terbiasa.
Aku mengambil jurusan IPS  bukan karena aku mau memisahkan diriku dengannya tapi karena aku memang suka dengan jurusan ini. Waktu waktu berlalu begitu cepat, aku mengisi keharianku seperti biasa aku hanya tinngal di rumah mengerjakan tugas dari guru, dan tiap sore aku selalu datang ke bukit yang tidak terlalu jauh dari rumah untuk mengamati senja, aku rasa hanya senja yang bisa membuatku tenang dari segala masalah yang ku dapat, dari senja aku bisa merasakan kesenangan yang membuatku seperti hilang di telan oleh warna yang bergradasinya, aku bisa melupakan gadis itu walaupun hanya sesaat dan setelah itu muncul kembali. Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan dirinya secara permanen, setiap kaliku berusaha aku tetap saja masih teringat tenttangnya. Disekolah, aku selalu saja melihatnya hanya dari kejauhan, inilah cara satu satunya untuk mengobati perasaanku, walaupun hanya sedikit tapi itu sudah lebih dari cukup.
Di akhir semester dua semua siswa yang ada di sekolah berinisiatif untuk melakukan liburan bersama di suatu tempat rekreasi yang ada di daerah bulukkumba, semua siswa di berikan selembar kertas yang berisi surat izin ke orang tua agar bisa mengikuti acara ini. Entah kenapa hati ini kembali bertanya Tanya, Apakah lintang juga ikut ke acara ini ? Atau tidak, selalu saja perasaan ini tidak tenang ketika sedang penasaran. Aku mengambil keputusan untuk menanyakan kepada temannya, aku menelfon reva untuk bertanya. “Hallo, Reva ?”. memastikan. “iya halo, iya ini aku, tumben nelfon hehe, ada perlu apa ?” menyapa balik sambil bertanya. “Ohh ngak, cuman mau nanya, kamu pergi ke acara yang di buat anak anak di sekolah?”hanya basa basi.”Iya aku pergi, kamu ?” bertanya balik.”Iya aku juga pergi, bagaimana dengan lintang apa dia juga ikut?”, sambil menghela nafas.”Tunggu deh, knapa tiap kali kita bertemu kamu selalu bahas tentang lintang?, Kamu suka yah sama lintang ?, sambil ketawa, “bisa juga aku suka sama dia, lagian lintang sudah punya pacar,”sambil mengeraskan suara. “ santai ajah dong, aku kan cuman main main”dengan nada tinggi. “kamu sih nuduh  aku yang ngak ngak. Ehh jawab dong ?” sedikit memaksa “iyah, lintang pergilah, kan doinya juga ikut” sambil ketawa. “Ohh iyah klau begitu udah dulu yah”. Entah kenapa hati ini kembali terasa sedih, tapi itu tidak ada masalah aku sudah trbiasa merasakannya, aku cukup senang mendengar kabar klaua lintang juga pergi walaupun hendra juga ikut, yang penting aku masih bisah melihatnya senang bersama hendra.
Pagi sudah tiba semua siswa yang inggin mengikuti acara ini di anjurkan untuk datang ke sekolah, sekitar satujam lewat semua siswa telah berkumpul,  kami berangkat dengan menggunakan bus, aku naik di bus ke dua bersama dengan teman teman kelasku saat kelas satu dlu, tapi ada yang bertambah dari teman kelasku itu. Hendra ikut dengan bus yang ku tumpangi juga, aku duduk di pojok palin belakang dan hendra berada di sampingku bersama lintang. Kenapa mereka duduk di sebelahku?, apa mereka sengaja ?, ucapku dalam hati. Aku memperhatikan mereka sangat begitu mesrah sepanjang perjalanan. Sekitar 4 jam perjalanan kami sampai di tempat tujuan, semua rombongan turun dari bus, kami melihat lihat sekeliling pantai yang tidak jauh dari rumah yang di tempati, ketua angkatan kami berbicara dengan menggunakan pengeras suara” Assalamualaikum.wr.wb. Teman teman selamat datang di pantai bira, semoga kalian bisa menikmati liburan ini”, semua siswa berseru senang, ada sebagian siswa yang langsung masuk ke penginapan , ada juga yang sudah berada di air. Aku yang baru bangun, langsung masuk ke dalam penginapan, aku melanjutkan tidurku. Jam menunjjukan arah ke angka 8, aku baru bangun dari tidurku, kuperhatikan di sekeliling penginapan taka da satupun siswa yang kutemui, akupun bergegas ke pantai untuk mencari anak anak yang lain, dari jauh aku melihat banyak orang yang sedang mengelilingi api unggun, aku mendekati keramaian itu, ternyata itu adalah teman temanku, aku ikut meramaikan pesta api unggun itu, kurasa ada yang kurang dari pesta ini, aku tidak melihat pasangan yang mesra itu ada disini. Sampai pesta api unggun itu selesai semua siswa kembali kepenginapan, tapi aku aku belum ngantuk, aku berjalan menyusuri pantai itu sendiri. Aku terkejut ketika melihat ada dua orang yang sedang duduk di pondok, kelihatannya mereka sangat mesrah merangkul satu sama lain, aku mendengar canda tawanya, kedengarannya suara mereka tidak asing. Tiba tiba dari arah suara itu ada yang memanggilku, “Hey, dias” dengan suara keras. Aku langsung mendekatinya, takjauh dari awalku melangkah aku meliaht ternyata itu hendra dan lintang yang sedang berduaan. “hey ternyata kalian, aku kira tadi siapa hehe” Sambil basa basi. “iyalah aku, kamu kira aku setan apa” sambil ketawa terbahak bahak. Baru kali ini hatiku tidak sesakit kemari kemarin, mungkin sudah terbiasa,”ehh herman, lintang, aku deluan yah” sambil pamitan, “mau kemana kamu?, jalan kok sendiri”, ngeledekin. “maunyari angin, yang penting senang ajah” sambil jalan meninggalkan mereka berdua. Sudah sangat jauh aku berjalan dan sepanjang perjalananku hanya membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi hendra, aku tidak bisa membayangkan kesenanganku jika itu terjadi kepadaku. Aku melihat jam yang terikat di tanganku menunjukkan pukul dua, aku segerah kembali ke penginapan untuk tidur. Keesokan harinya aku mendengar keributan yang sangat menganggu, aku keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi, ternyata anak anak yang sudah lebih dulu bangun menjaili anak anak yang belum bangun, mereka menganggkat anak yang belum bangun dan membuangnya ke laut, semuanya tumpah dengan tawa, akhirnya semua bangun dan bermain di pinggir pantai. Jam mnunjukkan pukul sebelas semua siswa kembali ke penginapan untuk makan siang sekalian mengemaskan barang barangnya untuk pulang kembali ke Makassar.
Sekarang kami sudah menduduki kelas tiga SMA dimana masa masa ini akan berakhir dan aku masih teteap menjadi bayangan si gadis itu, akhir akhir ini aku sering melihat mereka bertengkar entah masalah apa yang iya permasalahkan, aku tidak berhak untuk mengetahui permasalahannya, hngga suatu ketika mereka mengakhiri hubungannya. Jelang waktu menuju perpisahan sekolah aku memutuskan berkata jujur kepada lintang tapi tidak untuk memilikinya, paling tidak aku sudah mengatakan apa yang kupendam selama tiga tahun ini. Kuajak lintang ke suatu tempat, ku tuangkan segala keresahanku selama ini, setelah kukatakan lintang mengeluarkan air mata dan mengatakan “Kenapa kau tidak mengunggkapkan perasaanmu sejak dulu ?, jujur aku juga sebenarnya menunggumu mengatakan itu” sambil mengusap perasaanya. “aku tidak bisa mengunggkapkan perasaanku saat itu karena hendra lebih deluan mengatakan kalau hendra menyukaimu, Sekarang lupakanlah permasalahan ini biarkan aku tetap menjadi bayanganmu  dan kamu perbaikilah hubunganmu dengan hendra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar